- Perbandingan ketahanan produk Bilih 7 Muaro dibandingkan dengan produk lain dalam kondisi penyimpanan yang baik adalah berbanding 3 : 1. Produk kami mampu bertahan dengan mutu yang sama sejak diproduksi mencapai waktu 90 hari hingga 100 hari berkat kandungan rempah-rempah sebagai pengawet alami.
Produk lain hanya bertahan sekitar 30 hari.
- Tekstur ikan Bilih 7 Muaro bertekstur garing dan berwarna cerah.
Sedangkan produk ikan bilih yang dijual dipasaran jika anda konsumsi akan terasa keras (liat) saat digigit dan memiliki warna gelap/kecoklatan. - Bilih 7 muaro dilihat dari segi ukuran rata-rata tubuh ikan adalah sama, karena kami langsung mengolah ikan segar tersebut dari nelayan kami di danau singkarak tanpa menunggu beberapa hari untuk dicampur dengan olahan ikan bilih tangkapan nelayan di hari berikutnya.
Sementara produk ikan bilih yang banyak dipasaran ukuran tubuh ikan akan beragam dan bercampur ukurannya kecil dan besar, hal itu dimungkinkan karena berasal dari nelayan berbeda, waktu tangkapan dan pengolahan yang berbeda, dan dari tempat berbeda.
- Bilih 7 muaro di olah menggunakan minyak sayur maksimal 2 kali pakai demi menjaga kesehatan, tekstur, kualitas dan kuantitas ikan.
Karena ikan yang diolah menggunakan minyak goreng lebih dari 2 kali (Minyak Jelantah) produksi akan merusak kualitas produk bahkan menyebabkan penyakit (kanker, radang tenggorokan, dll) pada konsumen. Untuk menghindari hal tersebut anda bisa mengetahui warna ikan akan gelap/kecoklatan, tubuh ikan hancur, rasanya pahit (rasa gosong padahal ikan tersebut belum matang, hal ini dipengaruhi pemakaian minyak jelantah), serta ukuran ikan yang dimasak menggunakan minyak jelantah akan cenderung menyusut dari ukuran pada saat ikan itu diolah hingga waktu pengemasan.
- Produk bilih 7 muaro memiliki kandungan minyak tak jenuh dalam ikan kurang dari 1%, karena produk bilih 7 muaro melalui proses pengeringan dan sterilisasi tidak kurang dari 48 jam.
Sementara itu produk yang banyak dipasaran memiliki kandungan minyak goreng hingga 5%.
- Bilih 7 muaro hanya menggunakan bahan baku garam, bumbu tradisional, minyak sayur dan tentunya menggunakan ikan bilih segar (rentang waktu ketika ikan ditangkap ke pengolahan kurang dari 3 jam) langsung dari danau singkarak, sehingga menghasilkan produk dengan kualitas terbaik.
Produk dengan bahan baku ikan yang sudah tidak segar dapat diketahui dari bentuk ikan yang hancur pada bagian perut (Pacah Paruik) atau kepala maupun badan ikan patah menjadi lebih dari 2 bagian (patah 2 bagian = normal).
- Langkah produksi bilih 7 muaro diatur berdasarkan prinsip FIFO (First In First Out), yaitu ikan segar akan diolah kemudian dikeringkan lalu disortir (hanya kualitas terbaik yang akan didistribusikan ke konsumen) lalu didistribusikan ke konsumen seluruh indonesia. Dalam artian ikan segar yang ditangkap pada hari yang sama akan diolah 3 jam kemudian pada hari yang sama kemudian disortir dan dikemas 2 hari kemudian (setelah proses pengeringan).
- [Opsional] Stiker ikan bilih (kemasan toples) cetakannya akan terlihat tajam dan mencantumkan No Izin Produksi dari Dinas Kesehatan Indonesia serta mencantumkan tanggal expired produk.
Kualitas
Subscribe to:
Comments (Atom)